BAB 5: Bangunan Belakang dan Isyarat Bahaya
Daftar isi
https://zonaaman-novel.blogspot.com/2024/11/tokoh-utama.html
Proyek pembangunan perlindungan keluarga Armand semakin mendekati akhir. Di belakang rumah utama, sebuah bangunan bertingkat tengah dalam proses penyelesaian. Bangunan itu terlihat kokoh, dengan dinding beton tebal yang dirancang untuk bertahan dari cuaca ekstrem atau bahkan potensi ancaman dari luar.
“Pintu masuk hanya berjarak satu meter dari rumah utama,” kata Armand kepada Nadia sambil menunjuk sketsa di tablet. “Dengan begitu, kita bisa mengaksesnya tanpa perlu keluar terlalu jauh, bahkan saat kondisi sedang berbahaya.”
Nadia mengangguk, memperhatikan para pekerja yang sibuk memasang pintu baja di bagian depan bangunan belakang. “Bagian dalam sudah hampir selesai. Gudang makanan sudah rapi, dan ruangan untuk klinik kecil juga siap digunakan.”
---
Lantai Dasar: Gudang dan Klinik Kecil
Lantai dasar bangunan ini didesain multifungsi. Sebagian besar ruangannya digunakan sebagai gudang untuk menyimpan stok makanan dan hasil kebun. Rak-rak logam tinggi berjajar rapi, penuh dengan berbagai jenis bahan makanan: beras, gandum, kacang-kacangan, minyak, serta makanan kaleng. Pendingin besar di sudut ruangan berisi hasil kebun seperti buah dan sayuran yang mudah rusak.
“Semua stok ini cukup untuk setidaknya dua tahun,” kata Nadia, memeriksa daftar inventaris di tangannya. “Kalau kita bisa terus menanam dan panen, kita bisa bertahan lebih lama.”
Di sisi lain lantai dasar, terdapat sebuah klinik kecil. Klinik ini dilengkapi dengan peralatan dasar medis seperti ranjang pasien, lemari obat, dan alat-alat diagnostik sederhana. Sebagai seorang dokter, Armand merancang klinik ini untuk menghadapi keadaan darurat medis.
“Tidak banyak, tapi cukup untuk menangani luka atau penyakit ringan,” ujar Armand saat menunjukkan ruangan itu kepada Nadia. “Kalau penyakit lebih serius, kita harus berpikir kreatif atau merujuk ke tempat yang lebih besar.”
---
Lantai Atas: Obat dan Perlengkapan
Lantai atas bangunan ini didedikasikan sepenuhnya untuk menyimpan obat-obatan dan perlengkapan penting lainnya. Rak-rak diisi dengan berbagai jenis obat: antibiotik, obat penurun demam, vitamin, dan bahkan beberapa persediaan obat kronis.
“Ini salah satu ruangan terpenting,” kata Armand sambil memeriksa lemari yang berisi obat-obatan. “Kita tidak tahu berapa lama suplai obat dari luar akan tetap tersedia jika situasi memburuk.”
Selain obat-obatan, lantai atas juga menyimpan perlengkapan seperti masker, sarung tangan medis, cairan disinfektan, dan peralatan perlindungan diri lainnya.
“Semua ini akan sangat membantu jika virus itu benar-benar menyebar ke daerah kita,” kata Nadia, mengingat desas-desus tentang wabah yang mulai merebak di kota-kota besar.
---
Desas-Desus tentang Virus
Di luar perlindungan mereka, berita tentang virus yang merebak di kota-kota besar mulai menjadi topik pembicaraan hangat. Media melaporkan bahwa virus ini menyerang sistem pernapasan, menyebabkan gejala seperti demam tinggi, batuk parah, dan sesak napas. Namun, yang lebih mengkhawatirkan adalah tingkat penularannya yang sangat cepat.
“Ini bukan virus zombie, tapi tetap berbahaya,” kata Armand saat membaca laporan terbaru di laptopnya.
Nadia, yang duduk di sebelahnya, mengangguk sambil merenung. “Apakah menurutmu ini akan sampai ke sini?”
“Tidak ada yang tahu pasti. Tapi kalau melihat pola penyebarannya, kemungkinan itu ada,” jawab Armand.
Pak Junaedi, yang mendengar berita ini dari radio di rumahnya, merasa firasatnya mulai menjadi kenyataan. Ia kembali mengingat semua yang dilihatnya di proyek Armand: tembok tinggi, sistem penampungan air, dan kini bangunan bertingkat di belakang rumah utama.
“Sepertinya mereka tahu sesuatu yang tidak kita ketahui,” gumamnya.
---
Penyelesaian Proyek
Ketika malam tiba, lampu di bangunan belakang sudah menyala, menandakan bahwa sistem listrik tenaga surya di sana telah berfungsi sepenuhnya. Armand berdiri di antara rumah utama dan bangunan belakang, mengamati hasil kerja keras mereka.
“Nadia, kita hampir selesai,” katanya. “Sekarang tinggal memastikan semuanya siap jika wabah itu benar-benar sampai ke sini.”
Nadia mendekat, meletakkan tangannya di bahu suaminya. “Kita sudah mempersiapkan yang terbaik. Semoga cukup untuk melindungi keluarga kita dan siapa pun yang membutuhkan bantuan.”
Di kejauhan, suara angin malam membawa ketenangan sesaat, namun di baliknya ada ketegangan yang tak terhindarkan. Wabah mungkin belum sampai ke desa kecil mereka, tetapi setiap langkah yang diambil Armand dan Nadia menunjukkan bahwa mereka tidak akan lengah.
The construction of Armand's family survival shelter is nearing completion. Behind the main house, a sturdy two-story building is being finalized, featuring thick concrete walls designed for durability against extreme weather and external threats. The entrance is strategically placed only a meter away from the main house to ensure safe access during dangerous situations.
The ground floor serves as a multi-purpose space with a food storage area and a small clinic. The storage contains enough supplies to last two years, including grains, canned goods, and perishable items kept in large coolers. The clinic, equipped with basic medical tools, was designed by Armand to handle minor injuries and illnesses.
The upper floor is dedicated to storing medications and essential supplies, including antibiotics, vitamins, and protective gear such as masks and gloves. Armand emphasizes the importance of this room, especially with increasing reports of a respiratory virus outbreak in nearby cities.
Rumors of the virus spreading rapidly have raised concerns. Although not a "zombie virus," the high transmission rate and severe symptoms have prompted Armand and his family to expedite their preparations. Neighbor Pak Junaedi grows suspicious of the extensive measures, sensing the family might know more than they let on.
As the solar-powered systems are activated, Armand and Nadia reflect on their efforts to protect their family and others. Though the virus has not reached their village, the tension builds as they brace for possible challenges ahead.

Komentar
Posting Komentar