BAB 2 : TETANGGA yang PENASARAN

Daftar isi




Pagi itu, Pak Junaedi mengayuh sepedanya melintasi jalan setapak di belakang kompleks perumahan. Lelaki berusia 55 tahun ini adalah sosok yang ramah dan penuh rasa ingin tahu, dikenal sebagai tetangga yang senang menjalin hubungan baik dengan siapa saja. Sebagai pensiunan pegawai negeri, ia kini menghabiskan hari-harinya dengan berolahraga, berkebun, dan menghabiskan waktu bersama cucunya.

Pak Junaedi berhenti di tepi jalan ketika melihat deretan tembok tinggi yang sedang dibangun di area persawahan belakang kompleks. Ia menyipitkan mata, memperhatikan tembok yang menjulang hingga tiga meter, kokoh dengan campuran beton dan baja. Di bagian atas tembok itu, kawat berduri terpasang rapi, menambah kesan misterius pada tempat itu.

“Ini pasti proyek besar,” gumamnya.

Beberapa pekerja tampak sibuk mengaduk semen dan memasang bata. Di sudut lain, tiang beton berdiri tegak, menandai area yang akan segera menjadi pintu gerbang utama. Pak Junaedi mengenal pemilik lahan ini—Pak Armand, tetangganya yang tinggal beberapa blok dari rumahnya di kompleks perumahan.

Saat itu juga, ia memutuskan untuk mendekati salah satu pekerja. “Pak, apa ini milik Pak Armand yang di komplek?” tanyanya dengan nada ramah.

Pekerja itu mengangguk sambil melanjutkan pekerjaannya. “Iya, Pak. Beliau sedang membangun rumah di sini.”

Pak Junaedi mengangguk pelan, lalu melanjutkan perjalanan sepedanya sambil merenung. Apa yang membuat seorang dokter seperti Armand memutuskan membangun rumah di area yang cukup terpencil ini? Dan mengapa temboknya begitu tinggi seperti benteng?

Beberapa hari kemudian, Pak Junaedi menyempatkan diri berkunjung ke rumah Pak Armand. Seperti biasa, ia membawa sekeranjang buah dari kebunnya sebagai tanda silaturahmi. Di pintu, Nadia menyambutnya dengan senyuman ramah.

“Pak Junaedi, silakan masuk. Lama tak bersua,” kata Nadia, mengundang pria itu ke ruang tamu.

Setelah basa-basi tentang cuaca dan kegiatan sehari-hari, Pak Junaedi akhirnya mengutarakan rasa penasarannya. “Saya melihat proyek besar yang sedang dibangun di belakang kompleks, di persawahan. Itu milik Pak Armand, ya?”

Armand, yang baru saja bergabung dengan mereka di ruang tamu, mengangguk sambil tersenyum tipis. “Betul, Pak Junaedi. Kami sedang membangun rumah di sana.”

Pak Junaedi mengangguk, tapi matanya menunjukkan rasa ingin tahu yang mendalam. “Tapi saya perhatikan, tembok yang dibangun cukup tinggi, bahkan ada kawat berdurinya. Apa perlu sekokoh itu untuk sebuah rumah?” tanyanya dengan hati-hati.

Armand dan Nadia saling berpandangan sejenak sebelum Armand menjawab. “Kami hanya ingin memastikan keamanan, Pak. Dunia sekarang ini semakin tidak menentu. Dengan tembok tinggi dan sistem pengamanan tambahan, kami berharap bisa melindungi keluarga kami.”

Pak Junaedi mengangguk pelan, meskipun pikirannya masih dipenuhi berbagai pertanyaan. “Saya paham. Tapi rasanya jarang ada yang membangun rumah seperti itu di sekitar sini.”

Nadia tersenyum, mencoba mencairkan suasana. “Kami juga akan membuat kebun dan peternakan kecil di sana, Pak. Jadi tembok itu juga untuk melindungi hasil kebun dari hewan liar.”

“Oh begitu,” kata Pak Junaedi, meski ia tahu ada sesuatu yang lebih dari sekadar kebun dan peternakan. Sebagai tetangga yang peduli, ia hanya berharap apa pun alasan Armand dan keluarganya, semuanya berjalan baik.

Setelah percakapan singkat itu, Pak Junaedi pamit pulang. Dalam perjalanan, pikirannya terus memutar-mutar kemungkinan. Ia mengenal Armand sebagai dokter yang cerdas dan logis, sementara Nadia adalah seorang insinyur pertanian yang praktis. Mereka bukan tipe orang yang melakukan sesuatu tanpa alasan kuat.

“Apa yang mereka tahu yang tidak diketahui orang lain?” Pak Junaedi bertanya-tanya dalam hati. Ia tidak bisa menghilangkan firasat bahwa keluarga itu sedang mempersiapkan sesuatu yang besar.

Sementara itu, di lahan baru mereka, Armand memeriksa kemajuan pembangunan. Ia tahu bahwa rasa penasaran seperti yang dimiliki Pak Junaedi adalah sesuatu yang wajar. Tapi ia juga tahu bahwa tidak semua orang akan memahami urgensi dari keputusan yang mereka buat. Dalam diam, ia hanya berharap bahwa ketika waktunya tiba, tembok tinggi itu mampu memberikan perlindungan yang mereka butuhkan.



The story reflects on the thoughts of Pak Junaedi, who observes Armand, a logical and intelligent doctor, and Nadia, a practical agricultural engineer. He knows they are not the type to act without strong reasons, yet he is puzzled by their recent actions. He wonders, "What do they know that others don't?" and senses they are preparing for something significant.

Meanwhile, at their new land, Armand inspects the progress of construction. He understands the curiosity of people like Pak Junaedi but realizes that not everyone will grasp the urgency behind their decisions. Silently, he hopes that when the time comes, the high walls they are building will provide the protection they desperately need.

Cerita sebelumnya:

BAB 1 : PERSIAPAN yang DIAM-DIAM 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DAFTAR ISI

BAB 9: Pilihan yang Tidak Mudah

BAB 5: Bangunan Belakang dan Isyarat Bahaya