BAB 10: Awal Kehidupan Baru
Campervan Avandi dan Adit terparkir rapi di area tempat perlindungan. Kendaraan itu menjadi tempat tinggal sementara mereka selama pembangunan rumah baru. Setiap pagi, mereka memulai hari dengan memantau pekerjaan, memastikan setiap detail sesuai dengan rencana.
“Sudut pagar ini harus diperkuat,” ujar Avandi sambil menunjukkan diagram kepada tukang. “Kita pastikan struktur ini tahan lama.”
Adit yang duduk di dekat campervan sedang memeriksa stok alat-alat elektronik untuk integrasi sistem tenaga surya. “Mas, panelnya sudah datang. Tinggal kita pasang nanti.”
Namun, kehadiran mereka tidak luput dari perhatian. Pak Junaedi, salah satu tetangga terdekat keluarga Mira, sering mengamati aktivitas mereka dengan rasa ingin tahu.
---
Kecurigaan Pak Junaedi
Pagi itu, saat Avandi sedang berdiskusi dengan seorang pekerja, Pak Junaedi mendekati campervan mereka.
“Pagi, Mas Avandi,” sapanya ramah, meski nada suaranya menyiratkan rasa penasaran. “Sudah beberapa hari saya lihat Mas di sini. Tinggal di campervan, ya?”
Avandi tersenyum sopan. “Iya, Pak. Sementara waktu, selama pembangunan rumah.”
Pak Junaedi mengangguk, tetapi matanya memeriksa sekitar. “Rumah ini buat siapa, kalau boleh tahu?”
“Untuk saya dan keluarga kecil saya nanti,” jawab Avandi singkat namun tegas.
Pak Junaedi tersenyum tipis, tetapi rasa penasarannya belum terjawab sepenuhnya. “Semoga lancar, ya, Mas.”
---
Percakapan dengan Armand
Suatu sore, Avandi menemui Armand yang sedang memeriksa sistem air di pekarangan belakang. Setelah berbasa-basi, ia langsung ke inti pembicaraan.
“Pak Armand, saya ingin membicarakan sesuatu yang penting,” ujar Avandi, nada suaranya serius.
Armand menoleh. “Ada apa?”
“Saya punya tunangan, Pak. Namanya Shandy. Usianya 20 tahun, dan dia yatim piatu. Saya adalah satu-satunya keluarga yang ia punya,” ungkap Avandi. “Melihat situasi sekarang, dengan wabah yang mulai merebak, saya ingin mengungsikan dia ke sini, tinggal bersama saya di rumah yang sedang dibangun.”
Armand terdiam sejenak, merenungkan permintaan itu. “Shandy sudah tahu soal tempat ini?”
“Belum, Pak. Saya ingin memastikan semuanya siap sebelum mengajaknya,” jawab Avandi. “Dia percaya pada saya, dan saya ingin menjaganya sebaik mungkin.”
Armand mengangguk perlahan. “Kalau begitu, kita perlu bicara dengan seluruh keluarga. Tempat ini harus tetap aman dan rahasia. Tapi, kalau niatmu tulus, aku yakin keluargaku akan memahaminya.”
---
Rencana untuk Shandy
Setelah pembicaraan itu, Avandi merasa lega. Ia menghabiskan malam di campervan, berbicara dengan Adit tentang Shandy.
“Mas, kamu yakin ini langkah yang tepat?” tanya Adit.
“Tidak ada pilihan lain,” jawab Avandi. “Shandy adalah tanggung jawabku. Dia sudah kehilangan banyak dalam hidupnya. Aku ingin memastikan dia aman, sama seperti kita.”
Adit mengangguk. “Kalau begitu, aku akan bantu semampuku.”
---
Pak Junaedi Semakin Penasaran
Kehadiran Avandi dan Adit yang semakin intens di tempat perlindungan membuat Pak Junaedi semakin curiga. Ia sering terlihat berjalan-jalan di sekitar lokasi pembangunan, memperhatikan detail kecil.
“Orang ini pasti ada maksud besar,” gumamnya suatu sore sambil memperhatikan tukang memasang panel surya di atap rumah yang sedang dibangun.
---
Summary:
Avandi and Adit’s campervan is parked neatly at the shelter site, serving as their temporary residence while building a new house. Every morning, they supervise construction to ensure everything aligns with the plans. Avandi focuses on structural durability, while Adit manages the integration of solar energy systems.
Their activities draw the attention of Pak Junaedi, a curious neighbor. One morning, he approaches Avandi and asks questions about the project, subtly probing for more information. Avandi calmly explains that the house is for his future family, leaving Pak Junaedi’s curiosity partially satisfied but still suspicious.
Later, Avandi speaks privately with Armand, revealing his desire to bring his fiancée, Shandy, to the shelter. Shandy, a 20-year-old orphan, relies on Avandi as her only family. Acknowledging the growing threat of the epidemic, Avandi wants to ensure her safety. Armand agrees to discuss the matter with the family, emphasizing the need to maintain the shelter's secrecy.
That evening, Avandi shares his plans with Adit, who supports him wholeheartedly. However, their increased presence and activities at the shelter deepen Pak Junaedi’s suspicions. He continues to observe their work closely, convinced that something significant is unfolding.
.webp)
Komentar
Posting Komentar