BAB 11: Perencanaan Besar





Malam itu, di ruang tamu rumah perlindungan, Avandi duduk berhadapan dengan Pak Armand. Di meja, terhampar sketsa desain bangunan baru yang Avandi rancang.

“Pak Armand, saya punya satu usulan besar,” ucap Avandi dengan nada serius. Ia menunjuk gambar sketsa. “Saya ingin membangun rumah tambahan, yang kali ini berukuran lebih besar, dengan banyak kamar.”

Pak Armand mengernyitkan dahi. “Untuk apa, Avandi? Kita sudah cukup dengan rumah ini dan yang sedang kamu bangun.”

Avandi menarik napas dalam-dalam sebelum menjawab, “Jika wabah mengerikan itu benar-benar terjadi, kita tidak tahu siapa saja yang bisa diselamatkan. Kita mungkin menemukan orang-orang yang butuh perlindungan, dan rumah ini bisa jadi tempat untuk menyelamatkan mereka.”

---

Misi Menyelamatkan Peradaban

Pak Armand terdiam. Ia tahu ide ini masuk akal, tetapi risikonya juga besar. “Kamu sadar, Avandi, bahwa setiap tambahan orang di sini berarti beban logistik kita juga meningkat?”

“Saya sadar, Pak. Tapi saya percaya kita harus mempersiapkan tempat ini untuk menjadi lebih dari sekadar perlindungan keluarga. Ini bisa menjadi awal baru bagi peradaban manusia, jika skenario terburuk benar-benar terjadi.”

Armand memandang sketsa itu lama sebelum akhirnya mengangguk. “Baiklah. Tapi kita harus sangat hati-hati. Pastikan kamu melibatkan semua anggota keluarga dalam perencanaannya.”

---

Gudang Baru untuk Keamanan

Avandi melanjutkan pembicaraan. “Selain rumah baru, saya juga berpikir untuk membangun gudang tambahan di dekat kebun. Gudang ini bisa kita gunakan untuk menyimpan perlengkapan, stok bahan bangunan, dan alat-alat yang mungkin kita butuhkan nanti.”

“Kenapa bahan bangunan?” tanya Armand penasaran.

“Karena bahan bangunan bukan hanya untuk membangun rumah, tetapi juga untuk memperbaiki tembok atau struktur pertahanan kita jika terjadi kerusakan,” jelas Avandi. “Ini investasi untuk jangka panjang.”

Armand mengangguk lagi. “Ide bagus. Kita bisa mulai mengatur prioritas pembangunan.”

---

Pertanyaan tentang Senjata

Sebelum pembicaraan selesai, Avandi menatap Pak Armand dengan ekspresi serius. “Pak, satu hal lagi. Apakah menurut Anda kita perlu mempersiapkan senjata?”

Pertanyaan itu membuat suasana ruangan hening sejenak. Armand menyandarkan tubuhnya ke kursi dan berpikir keras.

“Saya berharap kita tidak akan pernah membutuhkannya,” kata Armand perlahan. “Tapi dalam situasi seperti ini, kita harus realistis. Jika kamu punya akses atau ide tentang cara mendapatkan senjata secara legal, kita bisa mempertimbangkannya. Tapi ini harus jadi langkah terakhir.”

Avandi mengangguk setuju. “Saya akan memikirkan caranya, Pak. Tapi saya pastikan kita hanya menggunakannya untuk perlindungan, bukan untuk menyerang.”

---

Persiapan Dimulai

Hari-hari berikutnya, Avandi mulai merancang rumah baru dengan bantuan Adit dan masukan dari Pak Armand. Lokasi gudang tambahan juga ditentukan di sisi kebun, tempat yang cukup strategis namun tetap terlindung dari pandangan luar.

Di sela-sela pekerjaannya, Avandi juga mulai mencari informasi tentang senjata yang bisa disiapkan tanpa menimbulkan kecurigaan atau konflik dengan hukum. Sementara itu, keluarga Mira terus berusaha menjaga keseimbangan antara mempersiapkan diri untuk masa depan dan menjalani kehidupan sehari-hari.


Summary:

That evening, in the living room of the shelter, Avandi presented his proposal to Pak Armand, showing a sketch of a new, larger building with multiple rooms. He explained the need for such a structure to provide refuge for others if a catastrophic outbreak occurred. While Pak Armand acknowledged the logic, he cautioned about the increased logistical burden. Avandi emphasized the potential to turn the shelter into a starting point for rebuilding civilization, convincing Pak Armand to proceed with careful planning involving the entire family.

Avandi also proposed building an additional storage facility near the garden to stock tools, construction materials, and essentials for future repairs or fortifications. Pak Armand approved the idea, recognizing its long-term importance.

Finally, Avandi raised the topic of preparing weapons for protection, a suggestion that Pak Armand reluctantly considered as a last resort. With approval granted, Avandi began designing the new house and storage area, involving Adit and the family in the process. He also started researching ways to acquire weapons legally, all while the family balanced their preparations with daily life.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

DAFTAR ISI

BAB 9: Pilihan yang Tidak Mudah

BAB 5: Bangunan Belakang dan Isyarat Bahaya