BAB 3: Isyarat Bahaya

Daftar isi

https://zonaaman-novel.blogspot.com/2024/11/tokoh-utama.html




Matahari pagi baru saja menyapa ketika Nadia melangkah keluar dari campervan yang terparkir di sisi lahan. Ia mengenakan kemeja flanel dengan celana panjang, tangan sibuk memegang tablet berisi daftar material yang harus dipesan ulang. Proyek pembangunan hampir selesai, tetapi ada beberapa detail yang masih memerlukan perhatian.

“Armand, panel surya sudah terpasang sempurna,” kata Nadia, memeriksa catatannya. “Tapi aku khawatir soal tangki air. Kita perlu menambah kapasitas, apalagi kalau nanti digunakan lebih banyak orang.”

Armand, yang sedang memeriksa desain pagar utama, mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari cetak biru di tangan. “Kita tambahkan satu tangki lagi di sisi utara. Aku juga ingin memastikan generator cadangan bisa bertahan setidaknya dua minggu tanpa pasokan luar.”

Nadia mendekatinya, menepuk bahunya pelan. “Aku akan urus. Tapi, Armand, apa kamu yakin kita tidak terlalu menarik perhatian? Pak Junaedi saja sudah mulai bertanya-tanya.”

“Kalau bukan sekarang, kapan lagi, Nad?” jawab Armand sambil menatap istrinya dengan serius. “Kita tidak punya banyak waktu. Tanda-tanda sudah mulai muncul, dan aku tidak ingin menyesal karena terlambat.”

Nadia mengangguk perlahan, memahami kegundahan suaminya. Sebagai seorang insinyur pertanian, ia pun mulai melihat anomali di sekitar mereka—cuaca yang semakin sulit diprediksi, panen yang gagal, dan harga kebutuhan pokok yang meroket. Namun, tidak semua orang menyadari bahwa ini hanya permulaan.

Di tempat lain, Pak Junaedi kembali melintasi jalan setapak di belakang kompleks. Ia tidak bisa menghilangkan rasa penasaran tentang proyek Armand. Ia memperhatikan bahwa beberapa pekerja sering datang larut malam, membawa peralatan yang tampak seperti kamera dan sensor.

Hari itu, rasa ingin tahu membawanya lebih dekat ke area pembangunan. Dari balik semak-semak, ia melihat sesuatu yang membuatnya tercengang—sebuah bunker kecil, hampir selesai dibangun, lengkap dengan ventilasi dan pintu baja tebal.

“Ini bukan rumah biasa,” gumamnya pelan.

---

Di malam yang sama, Armand duduk di ruang kerja di dalam campervan. Ia membuka sebuah file rahasia di laptopnya, memeriksa laporan terbaru tentang penyebaran virus yang mulai muncul di beberapa kota besar. Data itu membuat bulu kuduknya meremang.

“Sudah dimulai,” bisiknya.

Nadia masuk dengan membawa secangkir teh hangat. “Apa yang sudah dimulai?” tanyanya, meski sebenarnya ia sudah tahu jawabannya.

“Virus itu. Kita harus siap, Nad. Lebih cepat dari perkiraan.”

Tatapan mereka bertemu dalam keheningan, namun di baliknya ada tekad yang sama kuat. Keduanya tahu bahwa keputusan mereka membangun perlindungan ini bukan sekadar pilihan—ini adalah kebutuhan.

---

Pagi berikutnya, Pak Junaedi kembali ke lokasi, kali ini dengan dalih mengantarkan sayuran dari kebunnya untuk para pekerja. Ia menyapa salah satu dari mereka sambil meletakkan keranjang.

“Pak, maaf kalau saya lancang, tapi apa benar ini rumah keluarga Pak Armand?” tanyanya dengan nada ringan.

Pekerja itu tampak ragu sejenak sebelum menjawab. “Iya, Pak. Tapi... ini bukan cuma rumah. Ini tempat perlindungan.”

Pak Junaedi terdiam, menatap pekerja itu dengan penuh tanda tanya. Kata-kata itu berputar-putar di kepalanya sepanjang hari.

Ketika malam tiba, ia duduk di beranda rumahnya, menatap bintang-bintang. Sebuah firasat mengganggu pikirannya, membawa rasa takut yang sulit ia jelaskan.

“Apa yang akan terjadi pada kita semua?” bisiknya dalam hati, sementara di kejauhan, lampu-lampu di lahan milik Armand tetap menyala, seolah menjadi tanda kesiapan menghadapi sesuatu yang besar.

---



The story begins with Nadia stepping out of their campervan early in the morning, managing the final details of their almost-completed construction project. While solar panels are already installed, she expresses concern about water storage and the need to increase capacity, especially for future use by more people. Armand, focused on the main gate design, agrees and adds that their backup generator must last two weeks without external supply.

Nadia worries about attracting too much attention, particularly as Pak Junaedi, their neighbor, has grown curious. Armand responds firmly, emphasizing that their preparations are urgent, as warning signs—such as unpredictable weather, failed harvests, and soaring food prices—are already apparent. Meanwhile, Pak Junaedi becomes increasingly intrigued by the unusual activities on their property, especially when he spots workers arriving late at night with cameras and sensors. His curiosity leads him to discover a nearly completed bunker with steel doors and ventilation, confirming his suspicions that this is no ordinary house.

At night, Armand reviews classified reports on his laptop about the spread of a new virus in major cities, which reinforces his determination. When Nadia brings him tea and questions his concerns, he admits the virus has already begun spreading faster than anticipated. The couple shares a silent yet resolute understanding of the necessity of their actions.

The next morning, Pak Junaedi visits under the pretense of delivering vegetables. He casually questions a worker, who hesitates before revealing, “This isn’t just a house. It’s a shelter.” Deeply unsettled, Pak Junaedi spends the evening pondering the implications. Watching the distant lights on Armand's property, he is filled with unease and wonders, “What will happen to all of us?” The lights shine on, symbolizing Armand’s readiness for an impending crisis.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

DAFTAR ISI

BAB 9: Pilihan yang Tidak Mudah

BAB 5: Bangunan Belakang dan Isyarat Bahaya