BAB 6: Penglihatan, Virus, dan Keyakinan
Daftar isi
https://zonaaman-novel.blogspot.com/2024/11/tokoh-utama.html
Malam itu, setelah kesibukan pembangunan di siang hari, Nadia dan Armand duduk di ruang kerja di rumah utama. Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing, memikirkan desas-desus tentang virus yang mulai merebak di kota-kota besar. Suara jangkrik malam menjadi latar belakang keheningan yang terasa berat.
“Armand,” Nadia memecah keheningan. “Aku tak bisa berhenti memikirkan penglihatan itu. Apa ini benar-benar sesuatu yang sama dengan apa yang kita lihat di mimpi itu?”
Armand menghela napas, membenarkan posisi duduknya. “Aku rasa iya, Nadia. Tapi ada satu hal yang pasti: ini bukan virus zombie seperti yang kita khawatirkan sebelumnya.”
Nadia mengangguk. Mimpi yang mereka alami beberapa bulan lalu kembali terlintas di pikirannya. Dalam penglihatan itu, mereka melihat kerumunan orang yang terserang penyakit mematikan. Tidak ada tanda-tanda makhluk tak bernyawa seperti zombie, hanya manusia yang sakit parah, dengan wajah pucat dan napas terengah-engah.
“Virus ini berbeda,” lanjut Armand. “Ini menyerang sistem pernapasan. Cepat menular, mematikan, tapi tidak membuat orang kehilangan kesadaran seperti zombie.”
“Lalu kenapa penglihatan itu terasa begitu mendesak?” tanya Nadia. “Apa yang membuatnya begitu penting bagi kita?”
Armand memandang istrinya dengan mata penuh keyakinan. “Mungkin karena kita punya tanggung jawab lebih, Nadia. Kita melihat ini lebih awal agar bisa bersiap—bukan hanya untuk keluarga kita, tapi juga untuk siapa saja yang mungkin membutuhkan kita nanti.”
---
Penglihatan yang Membentuk Keputusan
Penglihatan itu adalah salah satu dari banyak pengalaman serupa yang telah mereka alami sejak mereka masih muda. Armand dan Nadia menyadari sejak awal pernikahan mereka bahwa mereka memiliki kemampuan yang unik. Kadang melalui mimpi, kadang melalui kilasan pikiran, mereka bisa merasakan ancaman yang akan datang sebelum itu benar-benar terjadi.
“Intuisi kita tidak pernah salah,” ujar Nadia. “Bahkan saat kita memutuskan membeli lahan ini dan mulai membangun perlindungan, aku tahu ini bukan hanya soal firasat biasa.”
Armand mengangguk. Penglihatan mereka sering menjadi alasan di balik keputusan besar yang mereka ambil. Seperti saat mereka tiba-tiba memutuskan untuk membangun tembok tinggi, menyiapkan stok makanan, dan membangun sistem air yang mandiri. Semua itu terasa seperti langkah yang harus dilakukan, meski mereka belum tahu alasannya sepenuhnya.
---
Virus yang Bukan Zombie
Berita tentang virus terus bermunculan di media. Virus ini dilaporkan pertama kali muncul di kota besar, menyebabkan gejala seperti demam tinggi, batuk parah, dan sesak napas. Tingkat penularannya sangat cepat, terutama di tempat-tempat dengan populasi padat.
“Ini seperti flu yang bermutasi,” kata Armand sambil membaca artikel di laptopnya. “Tapi jauh lebih mematikan. Mereka bilang angka kematian mencapai 20 persen di beberapa kota besar.”
Nadia menggigit bibirnya, mencoba menahan kekhawatiran yang merayap. “Tapi belum ada laporan tentang penyebarannya ke daerah pedesaan seperti ini, kan?”
“Belum,” jawab Armand. “Tapi jika kita belajar dari wabah-wabah sebelumnya, hanya masalah waktu sebelum virus ini menyebar ke mana-mana.”
Di sudut lain desa, Pak Junaedi mendengar berita yang sama dari radionya. Meski ia tidak sepenuhnya memahami detail virus tersebut, ia tahu ada sesuatu yang sangat tidak biasa. Firasatnya tentang proyek besar keluarga Armand semakin kuat.
“Mereka tahu ini akan datang,” gumamnya pelan. “Mereka pasti tahu sesuatu yang kita tidak tahu.”
--
Harapan di Tengah Ketidakpastian
Malam itu, setelah memastikan bahwa semua ruangan di bangunan belakang siap digunakan, Armand dan Nadia berdiri di antara rumah utama dan bangunan baru mereka.
“Nadia, semua ini mungkin terlihat berlebihan bagi sebagian orang,” kata Armand. “Tapi aku yakin, apa yang kita lakukan ini adalah untuk kebaikan semua.”
Nadia menatap suaminya, merasakan keyakinan yang sama. “Aku percaya pada penglihatan kita. Dan aku percaya pada apa yang kita bangun bersama.”
Mereka memandang bangunan bertingkat itu dalam keheningan, dengan lampu-lampu tenaga surya yang menerangi malam. Di lantai bawah, gudang makanan dan klinik kecil sudah lengkap. Di lantai atas, obat-obatan dan perlengkapan medis tersimpan rapi, siap digunakan kapan saja.
“Virus ini mungkin bukan zombie,” ujar Nadia pelan. “Tapi dampaknya bisa sama menghancurkannya. Dan saat waktunya tiba, kita akan siap.”
Di tengah malam yang tenang itu, dengan udara segar yang berhembus dari arah bukit, mereka merasakan harapan. Meski badai besar mungkin akan datang, mereka percaya bahwa cinta, kerja keras, dan keyakinan akan membantu mereka bertahan dari segala rintangan yang ada.
---
That evening, after a long day of construction, Nadia and Armand sat in the main house's study, reflecting on rumors about a virus spreading in major cities. Breaking the silence, Nadia asked if the situation aligned with their shared vision months ago—a vision of people suffering from a deadly respiratory illness, though not zombies.
“This virus is different,” Armand explained. “Highly contagious, lethal, but not zombifying. Perhaps our vision was a warning, urging us to prepare not just for ourselves but for others as well.”
The couple’s unique ability to foresee potential threats had influenced many major decisions in their lives. These visions guided them to purchase the land, build high walls, stockpile food, and create self-sufficient water systems long before any concrete threats emerged.
Media reports described the virus as a mutated flu, with severe symptoms and a 20% mortality rate in cities. While it hadn’t yet reached rural areas, Armand believed it was only a matter of time. Their neighbor, Pak Junaedi, sensing the family’s unusual preparedness, grew increasingly suspicious, convinced they knew more than they revealed.
That night, as the solar-powered lights illuminated the shelter’s two-story structure, Armand and Nadia reflected on their efforts. The ground floor now housed a food storage area and clinic, while the upper floor stored critical medical supplies.
“Perhaps it’s not a zombie virus,” Nadia remarked, “but it could be just as devastating.” Despite the looming uncertainty, they stood united, ready to face the challenges ahead with love, determination, and hope.

Komentar
Posting Komentar